Jumat, 24 Desember 2010

Miracle from heaven (part 1)


Penderitaan...
Masalah...
Penyiksaan...
Itu adalah kata-kata yang terus beredar dalam kehidupan seorang manusia.
Keajaiban...
Apakah keajaiban itu ada?
Ya, keajaiban itu ada. Seperti sebuah apel yang tergantung di atas pohon. Kita harus memanjat pohon apel terlebih dulu untuk mendapatkannya. Awalnya merasa sengsara untuk mendapatkan apel, tapi ketika mendapatkannya kita bisa melupakan usaha kita secepat kilat karna rasa nikmat yang diberikan apel kepada kita. Seperti itulah keajaiban datang. Kita tidak duduk berdiam diri untuk menunggu apel jatuh ke tanah, tapi kita harus berdiri, memanjat pohon apel tersebut.
Korban..
Apakah kita harus mengganggap diri kita sebagai korban dalam kehidupan ini?
Jawabannya ada pada diri masing-masing...
Layaknya seekor  ikan salmon yang berusaha meloncati arus sungai yang deras...

BAB 1
Pernahkah kalian mengalami masalah yang sangat berat pada dirimu?
Well, kalian pasti akan bilang ya.
Tapi, apakah kalian benar-benar tahu masalah yang sangat berat itu seperti apa?
Atau kalian akan bilang bahwa semua masalah yang menimpa dirimu adalah masalah yang berat?
Aku mengalami masalah yang benar-benar berat
Dan aku tidak tahu harus bagaimana kecuali menangis

BRAKK!! Suara pintu dibanting. Aku terduduk di pojokan dinding kamarku dengan tubuh bergetar dan bekas pukulan di wajahku yang sakitnya menusuk kulit. Mataku terus-terusan mengeluarkan air mata sampai rasanya mataku ingin buta. Di sela-sela celah pintu, aku mendengar percakapan antara kakak dengan ibuku samar-samar. Aku menguatkan diriku dan berbaring di ranjang. Kutarik selimut berwarna hijau menutupi seluruh tubuhku. Aku gemetaran.
   Buku diaryku yang berada di sisi kasur, kutarik dan kudekap erat-erat. Air mataku menetes hingga membasahi beberapa lembar buku diaryku yang covernya bergambarkan mickey mouse. Aku mengeluarkan pena yang telah kuselipkan di buku diaryku. Lalu aku mulai menulis diary dengan posisi tubuh tidur menyamping.
Dear Diary,
  Dari dulu aku sudah tahu kalau aku bukan anak sempurna. Sebenarnya, aku memang terlahir sempurna. Punya mata, hidung, telinga, tangan, kaki dan wajah yang sempurna. Sayangnya, kehidupanku tidak sempurna. Kalian tahu kenapa? Karna aku anak BROKEN HOME! Ayahku bercerai dari ibuku beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang, sepertinya kakak cowokku mulai menggila dengan kehidupan keluarga kami yang berantakan. Aku... aku adalah korban dari semua ini. Rasanya aku ingin mengutuk semuanya!!! Lihat pipiku ini! Pipiku ini lebam berwarna biru tua. Aku dianiaya!!!!!!!!!!!! Yang lebih parah lagi, ibuku, ibu kandungku SENDIRI tidak membelaku dan hanya membiarkannya. Apa yang kau lihat? Tidakkah kau lihat tubuhku dipenuhi dengan bekas luka yang lebam? Apa kau ingin aku merasakan penderitaan yang sama denganmu? Tidak, mom, aku tidak mau. Aku bukan kau. Hidupku seharusnya bahagia jika  kau bertindak tegas. Aku tidak akan membiarkan kalian berdua, para monster, menghancurkan hidupku. TIDAK AKAN PERNAH!

   Aku merobek kertas diaryku yang kutulis tadi, lalu aku meremasnya. Mataku masih saja mengeluarkan air mata. Hentikan mata! Jangan menangis! Aku tidak mau terlihat lemah.
   Tidak.. aku tidak bisa menghentikannya. Ini keluar begitu saja. Jantungku terasa seperti diremas tangan yang besar, paru-paruku seperti diremukkan, hatiku seperti sedang disayat, ditusuk dan dibelah oleh sebilah pisau tajam. Aku sesak napas. Tolong... tolong aku...

KEJADIAN SEPULUH TAHUN YANG LALU
“Tidurlah, Min Jee. Sudah malam”, kata seorang ibu yang memakai baju daster dengan wajah yang kelelahan.
 “Tidak, mom. Aku tidak bisa tidur. Ayah belum pulang”, kata Min Jee kecil sambil memegangi boneka barbienya yang sudah botak.
Ibunya menghela napas, “Jangan... kau tak boleh menemuinya”.
Min Jee kecil masih tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh ibunya. Ia menatap polos ke dalam wajah ibunya.
“Min Jee.. cepatlah tidur, sayang”, kata ibunya sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuh Min Jee. Lampu kamar dimatikan, Min Jee tidak bisa melihat apa-apa. Tapi, ia masih bisa mendengar.

Terdengar pintu kamar Min Jee ditutup dan dikunci oleh ibunya. Seketika itu juga terdengar ia mendengar  bunyi pintu depan dibuka. Sepertinya itu ayah!

Min Jee turun dari tempat tidurnya. Ia masih memegangi boneka barbienya.
“Berse.. ayah sudah pulang. Tapi, aku tidak bisa lihat apa-apa. Ibu selalu mematikan lampu dan mengunci kamarku, berse”, kata Min Jee kepada bonekanya. “Tenang aja, suatu saat nanti kamu pasti bisa ketemu ayahku. Kita duduk di sini saja ya”.
Min Jee duduk membelakangi pintu kamarnya. Ia tak bisa membuka pintunya karna ganggang pintunya terlalu tinggi.

PLAK! Bunyi pukulan. Min Jee bergidik ngeri.
“Ssstt.. diam, berse. Nanti kita ketahuan”, kata Min Jee.

“Apa yang kau inginkan? Dasar wanita jalang!”, bentak ayah Min Jee kepada ibunya.
“Wanita jalang? Lalu, kau apa? Dasar keparat!”, teriak ibu Min Jee sambil menangis. “Dari mana saja kau? Kenapa baru pulang jam segini?”.
“Bukan urusanmu! Terserahku, aku mau pulang jam berapa. Kau tinggal mengurusi anak-anak saja”.
“Ini urusanku! Kau suamiku dan aku istrimu! Kita sudah mempunyai dua anak. Kenapa sifatmu semakin bajingan saja? Sadar, kau brengsek!”.
“Kau yang brengsek! Aku tahu harus bertindak apa untuk anak-anakku”, ucap ayah Min Jee yang hendak pergi dari ruang tamu.
“Jangan pergi! Aku masih mau bicara”.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku tidak betah lagi denganmu. Hari ini aku mau menginap di hotel saja”.
“Dasar bajingan!!!”, teriak ibu Min Jee di depan batang hidung ayah Min Jee yang mancung.

PLAKK!! Lagi-lagi suara pukulan. Setelah itu, terdengar beberapa kali bunyi pukulan, benda-benda dilempar dan suara benda kaca pecah.

Min Jee memeluk boneka barbienya.
“Jangan menangis sayang.... Aku ada di sini.. Kita pasti bisa melewati semuanya... Aku punya ayah, ibu dan kakak... Semuanya baik padaku...semuanya baik....”, suara Min Jee kecil bernyanyi lirih.

""""

  Min Jee membuka matanya perlahan-lahan. Ia mendapati dirinya ketiduran. Buku Diarynya masih berada di sampinya. Ia bisa merasakan bahwa matanya sangat berat.
Dengan langkah yang tergopoh-gopoh, ia menuju kaca riasnya yang digantung. Bengkak. Matanya bengkak sekali. Ia jadi terlihat semakin sipit saja. Min Jee masih linglung. Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul 06.00 pagi.
   Ia menuju kamar mandi dan menyalakan shower. Butir demi butir air membasahi tubuhnya. Ada rasa perih di beberapa bagian tubuhnya yang baru dipukul oleh kakaknya. Lagi-lagi Min Jee menangis. Entah menangis karna menahan sakit atau menangis karna ia teringat akan kejadian semalam.
JJJJJ
Palang bertuliskan bus station berdiri kokoh di Broadway street. Sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, Min Jee menunggu bus. Beberapa menit kemudian bus kuning dengan warna catur di bagian badannya berhenti di depan Min Jee. Bus ini adalah bus ekonomi, ketika menginjakkan kaki ke dalam bus bau apak dicampur rokok langsung masuk ke dalam hidung. Min Jee mencari-cari tempat duduk kosong. Ia harus menerima bahwa ia duduk di samping seorang ibu yang sedang memangku anaknya. Bisa terlihat dari wajah ibu itu bahwa ia orang Italia-Amerika.
“Hi, how are you?”, sapanya ramah kepada Min Jee saat Min Jee duduk di sampingnya.
“I’m fine. Thanks”, kata Min Jee, lalu memunggungi ibu itu. Ia tidak ingin banyak bicara untuk sekarang. Karna kabarnya benar-benar buruk hari ini. Min Jee sedikit melirik ke arah anak ibu itu.
    Anak itu berumur dua tahun dengan kulit putih pucat dan rambut coklat. Ia mengemut lollipop rasa jeruk.
Kau beruntung, nak. Kau mempunyai seorang ibu yang menyayangimu dan selalu melindungimu. Kau masih mempunyai ayah kan? Pasti kehidupanmu sangat enak. Tidak sepertiku. Maukah kau bertukar posisiku denganku? Kumohon... ayolah, nak!
   Sepertinya ibu anak itu menyadari bahwa Min Jee sedang menatap anaknya.
   “Excuse me.. Can I help you?”, tanyanya.
   Min Jee tersenyum, “No. I just... hmm... You have handsome boy”.
  “Thank you”.

   Bus berhenti. Min Jee melangkahkan kakinya keluar dan menatap ke depan. Dilihatnya pintu gerbang sekolahnya yang begitu megah dan besar. Murid-murid saling bercakap sambil menggosip. Min Jee memberi semangat kepada dirinya agar ia bisa tersenyum. Ia menghela napas dalam-dalam dan kemudian bibirnya tersenyum lebar.

   “Hai, Min Jee...”, kata seseorang dari belakang.
   “Hai, Hyun.. Tumben kamu datang telat. Biasanya kan kamu datang cepat”, kata Min Jee tersenyum, senyum yang menandakan “aku baik-baik saja”.
   “Ya, habisnya hari ini ayahku telat bangun. Jadinya aku kena getahnya deh!”.
   Terkadang Min Jee merasa iri kepada Hyun, terkadang ia pun benci dengan Hyun dan terkadang ia tak ingin berteman dengan Hyun lagi. Tapi, Hyun adalah anak yang bersemangat dan ia tipe orang yang tidak akan melepaskan sesuatu. Rasanya, Min Jee ingin membungkam mulut Hyun ketika ia membicarakan tentang kehidupan keluarganya. Kehidupan keluarga yang sangat sempurna dan membuat Min Jee ingin menangis. Kata guru kesenian Min Jee, ketika kau sedang mengalami masalah dan kau ingin lari dari masalah tersebut. Ceritakanlah masalah itu kepada temanmu. Kata-kata itu terus mengambang di benak Min Jee. Ia sebenarnya ingin menceritakan masalahnya kepada Hyun, tapi ketika berada di depan Hyun, ia malah tidak bisa menceritakannya.
   “Terkadang rasanya aku bosan. Masa aku harus diantar sama ayahku terus sih? Aku kan bentar lagi SMA. Entah apa kata teman-temanku yang di SMA kalau mereka melihatku”. Hyun menutup mukanya dengan tangan, menandakan dia malu.
   “Itu berarti ayahmu menyayangimukan? Seharusnya kau senang”.
   “Huuuh... aku cape. Aku ingin mandiri”, kata Hyun. “Kamu enak, Min Jee. Ke mana-mana selalu sendirian. Kamu jadi kayak orang dewasa. Coba aku, aku jadi seperti anak kecil terus”.
   Min Jee tersenyum pasrah. Jika kau tahu sejarah keluargaku. Apa kau masih akan berbicara seperti itu? Tak lama bel pun berbunyi. Mereka berdua langsung berlari pelan ke kelas secara refleks.

Pelajaran berlangsung. Min Jee menghantukkan pulpennya ke meja sehingga menimbulkan suara pelan. Ia terus memikirkan bagaimana nasibnya setelah ini. Hal yang paling ia benci di dunia adalah pulang ke rumah. Yang selalu ia harapkan ketika tiba di rumah hanyalah ketidakadaan kakaknya. Bulu kuduknya sedikit berdiri jika memikirkan hal itu terus. Semenjak ayahnya pergi dari rumah, itulah perkerjaan Min Jee: terus memikirkan bagaimana nasibnya.  Min Jee memagutkan bibirnya. Lama-lama aku bosan dengan ketakutanku yang terus mengalir dalam darah ini.

Teng...teng...teng...
Bunyi bel sekolah berbunyi. Para murid langsung memasukkan buku-buku ke dalam tas dan bergegas pulang. Mereka terlihat tampak gembira. Jelas saja mereka gembira karna jika mereka tiba di rumah, mereka tinggal menidurkan diri mereka di kasur yang empuk. Min Jee masih duduk sambil memandang lurus ke arah papan tulis yang penuh dengan rumus fisika.
“Min Jee, kamu nggak pulang? Aku pulang duluan ya!”, kata Hyung yang langsung berlari keluar kelas. Di antara murid-murid lainnya, Hyung yang sering pulang cepat. Ayahnya sudah menunggunya di depan gerbang selama lima belas menit sebelum bel pulangan. Itulah sebabnya kenapa tidak pernah ada cowok yang mendekati Hyung, mereka takut dengan ayahnya. Hyung sendiri sebenarnya bukan teman dekat Min Jee. Ia hanya sebatas teman yang sering ngobrol dengan Min Jee. Terkadang ia suka memamerkan kekayaannya di depan orang-orang.
“Huuuuhhh...”, kata Min Jee pasrah. Ia bangkit dari duduknya dan menuju gerbang sekolah. Rasanya langkah  kakinya begitu berat untuk pulang ke rumah. Siang itu, ia memilih jalan kaki karna kakaknya telah mempengaruhi ibunya untuk tidak mengasih uang jajan. Dasar iblis!, keluh hati Min Jee.
Ia menegok ke kiri ke kanan sepanjang perjalanan. Dilihatnya begitu banyak kendaraan, orang-orang berjalan dan pepohonan. Burung gereja mendarat di suatu kumpulan bekas air hujan. Ketika Min Jee mendekat, burung itu pergi. Min Jee menatapi penerbangan burung itu ke langit-langit yang tak terjangkau. Kau enak, burung. Bisa pergi ke mana saja. Tidak ada yang mengekangmu. Mungkin sebentar lagi aku akan gila.
Min Jee melanjutkan perjalanannya lagi. Beberapa menit kemudian entah apa yang terjadi dengan kepalanya. Min Jee memegangi kepalanya. Kenapa aku? Kepalaku pusing. Ia bisa merasakan matanya berkunang-kunang. Dipegangnya pagar batas pejalan kaki. Aku... aku tidak bisa bertahan lagi. Mata Min Jee langsung tertutup begitu saja. Tapi, sebelum dia benar-benar pingsan. Ia bisa mendengar suara orang.
“Hei..nak! Kau kenapa?”, kata orang itu.
BRAKK... Min Jee pingsan.

""""

Min Jee membuka matanya perlahan-lahan. Ia melihat tembok bercat putih, lemari kayu besar dan seorang bapak-bapak dengan samar-samar. Badannya terasa terenyakkan di sebuah kasur empuk.
“Di mana aku?”, tanya Min Jee yang masih setengah sadar.
“Kau ada di rumah saya. Tadi kamu pingsan”, kata bapak-bapak itu. Bapak itu menuangkan air ke dalam gelas dan menyodorkannya pada Min Jee. “Minumlah, nak”.
Min Jee mengambil minuman itu dan meminumnya. Sangat jelas terlihat bahwa bapak itu adalah seorang bule. Rambutnya coklat dengan mata biru yang memancarkan kehangatan. Biru... Aku suka mata biru. Matanya sama seperti mata ayah.
“Sebelumnya, saya minta maaf jika saya bertanya sesuatu. Hmm... apakah kamu pernah dipukul seseorang, nak?”, tanya bapak itu.
Min Jee hampir tersedak saat bapak itu berkata seperti itu. Darimana dia tahu? Min Jee tak menjawab, ia bingung harus menjawab apa. Min Jee hanya menundukkan kepala dan terus meminum air di gelas. Bapak- bapak itu terus melihati Min Jee, tapi ia tidak menuntut agar Min Jee menjawab pertanyaannya barusan.
“Perkenalkan nama saya Robert. Saya adalah pengusaha restoran di Indonesia. Dan saya juga sebagai dokter”, katanya. “Maafkan saya jika saya lancang. Tapi, saya tak sengaja melihat beberapa luka memar anda. Dan yang saya tahu, luka itu adalah luka bekas dipukul. Apa yang sebenarnya terjadi?”.
Min Jee meringkuk dan memeluk badannya. Air matanya berada di ujung tanduk. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus memberitahu orang ini? Aku belum mengenalnya. Lagipula aku tidak mau aib keluargaku terbuka. Apakah orang ini bisa dipercaya? Matanya...matanya benar-benar memancarkan kehangatan. Sama seperti mata ayah. Min Jee menangis.
“Baiklah, nak. Kalau kau tidak mau cerita, saya tidak akan memaksa”, kata Pak Robert. “Di mana kamu tinggal?”.
Min Jee mengangkat kepalanya dan menggeleng. Pak Robert mengernyitkan dahinya, tapi ia tidak berkata apa-apa lagi. Sepertinya ia tahu bahwa saat ini bukanlah saat yang tepat untuk berbicara.
“Nak, saya ada urusan di kantor. Kalau kamu tidak mau pulang, kau bisa tinggal di sini dulu untuk menenangkan dirimu”, kata Pak Robert yang bangkit dari duduknya. “Saya akan pulang jam lima nanti. Kalau lapar, silahkan ambil makanan di kulkas”. Pak Robert mengambil mantel coklat tuanya yang ia gantung. Ia membuka pintu, “Tenangkan dirimu dulu ya, nak”. Setelah itu, terdengar suara bunyi mobil keluar dari garasi.
Min Jee masih terdiam di kamar. Ia melihat sekeliling ruangan itu. Aneh sekali bapak-bapak itu. Kenapa ia bisa mempercayai rumahnya kepadaku? Aku kan orang asing.
Tapi.. Pak Robert memang baik. Mungkin aku akan menunggunya hingga dia pulang dan menceritakan semuanya. Min Jee turun dari tempat tidurnya. Ia membuka pintu. Rumahnya tidak bertingkat dan sederhana saja. Mungkin, ini rumah singgahan saja. Min Jee mengitari seluruh ruangan. Rumah ini ada tiga kamar tidur yang masing-masing mempunyai kamar mandi. Ada ruang tamu, ruang makan sekaligus dapur, taman belakang yang tidak terlalu besar, garasi, ruang keluarga dan satu kamar mandi utama. Min Jee membuka sebuah kamar. Kamar itu jauh lebih besar dan fasilitasnya lebih lengkap daripada kamar-kamar yang lain. Pasti ini kamar Pak Robert. Min Jee melihat sebuah poto yang terletak di meja rias. Ada Pak Robert, seorang perempuan yang lebih muda darinya dan seorang anak laki-laki yang berusia empat tahun. Kalau dilihat-lihat poto ini adalah poto lama. Karna penampilan Pak Robert yang sekarang jauh lebih tua. Akh! Aku ini sembarangan masuk rumah orang. Pak Robert, maafkan aku. Aku bukanlah tamu yang baik. Ia meletakkan kembali poto itu ke tempat semula.
 Kemudian, Min Jee menuju dapur. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 04.55. Sebentar lagi Pak Robert pasti datang. Min Jee membuatkan secangkir coklat panas. Tepat jam 05.00 Pak Robert datang. Min Jee membawa coklat panas ke ruang tamu.
“Wah...wah... rajin sekali kamu”, kata Pak Robert tersenyum hangat.
“Tidak apa-apa, Pak. Lagian Bapak sudah menolong saya”.
“Sebenarnya saya tidak terlalu suka coklat panas. Saya lebih suka minum kopi”, kata Pak Robert yang sedikit demi sedikit meminum coklat panas buatan Min Jee.
“Oh..saya tidak tahu. Apakah bapak ingin saya buatkan kopi?”.
“Tidak usah. Lagian, coklat panas buatanmu enak sekali”.
Ada jeda beberapa detik mereka berdua terdiam. Min Jee paling tidak suka dengan hal itu. Tapi, Min Jee juga tidak mau memulai pembicaraan lebih dulu.
“Jadi... rumahmu di mana?”, tanya Pak Robert yang memulai pembicaraan.
Min Jee menundukkan kepalanya, “Saya nggak mau pulang”.
“Loh... kenapa?”.
Min Jee ingin menjawabnya, tapi rasanya ia tidak sanggup. Pita suara seperti ditelan oleh tenggorokannya.
“Baiklah, saya tidak akan memaksamu. Saya akan menunggu hinga kamu tenang dan menceritakan semuanya”.
“Kenapa? Kenapa bapak begitu baik dengan saya? Padahal kan saya orang asing”.
“Karna umurmu sama dengan anak saya. Namanya Daniel, saya tinggal dia di Indonesia untuk beberapa waktu ini karna saya ada proyek di sini. Dia tidak terlalu pandai bicara”.
Min Jee mengangkat kepalanya dan menatap kedalam mata Pak Robert. Dari situ Min Jee tahu bahwa Pak Robert adalah orang yang baik. Saya percaya kepada anda, ujar hatinya.
“Ini juga salah saya. Dia jadi seperti itu karna saya bercerai dengan istri saya beberapa bulan yang lalu. Dia tertekan dengan keadaan itu”. Pak Robert menaruh gelas kosong ke meja tamu.
Ya, Pak Robert, saya pun juga tertekan dengan perceraian orang tua saya. Tapi, anak anda lebih beruntung dari saya. Setidaknya dia tidak diasuh oleh ibu dan kakak yang gila. Mereka berdua terdiam sebentar.
Min Jee berpikir sejenak. Selama ini aku selalu menutupi kesalahan orang lain karna tidak ingin merusak nama baik orang. Sampai-sampai aku terus menyimpan kebusukan kakak dan ibuku. Mungkin, ini waktu yang tepat untuk membongkar semuanya. Aku bukanlah malaikat yang berhati emas. Aku hanya manusia. Untuk apa aku selalu menutupi kebenaran?
“Pak Robert sebenarnya saya...”, kata Min Jee ragu.
“Ada apa, nak?”.
“Saya akan menceritakan semuanya kepada bapak”. Min Jee menarik napasnya dan mulai menceritakan semuanya. Mulai dari perkelahian ayah dan ibunya ketika ia kecil, kakaknya yang gila, perceraian orang tuanya dan ibunya yang selalu membela kakak cowoknya. Pak Robert mendengarkan Min Jee dengan seksama. Entah kenapa saat menceritakan kehidupan keluarganya yang berantakan kepada Pak Robert, Min Jee mendapatkan kepercayaan dirinya. Ia bisa menceritakan dengan lancar dan tanpa air mata yang menggantung di bola matanya.
“Begitulah ceritanya”, kata Min Jee lega.
“Benar-benar sulit dipercaya”, kata Pak Robert membetulkan letak kacamatanya. “Kehidupanmu begitu sulit. Kenapa tidak kabur saja?”.
“Saya maunya seperti itu. Tapi saya takut”, kata Min Jee. “Saya takut jika saya kabur dan suatu hari nanti mereka akan menemukan saya. Entah apa yang akan terjadi. Saya nggak mau pulang...”, kata Min Jee meringkuk sambil menangis.
Pak Robert bisa melihat ketakutan yang mendalam pada diri Min Jee. Badannya bergetar. Biar bagaimanapun anak seusianya seharusnya mengalami masa remaja yang normal. Masa remaja yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. Entah mengapa rasanya Pak Robert merasa sudah tanggung jawabnya untuk melepaskan Min Jee dari masalah itu.
“Nak, kau boleh menginap di sini jika kau mau”, kata Pak Robert. Min Jee masih meringkuk, badannya gemetaran. Pak Robert menunggu Min Jee hingga tenang.
“Terima kasih, pak”, kata Min Jee menghapus air matanya.
“Kau boleh tidur di kamarmu yang tadi. Saya tidak akan macam-macam. Apa kau percaya?”.
“Ya, saya percaya kepada bapak”.

Akhirnya malam itu Min Jee menginap di rumah Pak Robert. Benar-benar aneh rasanya. Baru pertama kali ini Min Jee langsung percaya kepada orang asing dengan mudahnya. Mungkin karna Pak Robert memiliki pancaran mata yang sama seperti ayahnya yang membuat Min Jee terhipnotis. Kepala Min Jee terasa mau pecah. Ia tahu pasti ia akan dimarahi dan dipukul kakaknya jika malam ini ia tidak pulang. Tapi, ia ingin sekali saja merasa aman dan tidak perlu khawatir akan dimarahi dan dipukul. Aku harus mengistirahatkan otakku dulu. Min Jee tidur sambil menangis.

Malam itu, aku pulang jam sembilan malam. Dengan hati yang gelisah, aku mengendarai motor. Ini semua karna kegiatan sialan itu! Padahal aku sudah minta ijin untuk pulang duluan, tapi ketua panitianya nggak ijinin. Aku takut... Perasaan itu datang kembali. Bagaimana reaksi kakakku nanti? Apakah aku akan dipukul? Aku membayangkan berbagai hal buruk. Lalu, aku memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.

Aku sampai di depan rumahku. Kulihat kakakku ada di garasi. Ia terkejut melihat kedatanganku. Matanya memancarkan pancaran iblis yang dendam kepada Adam. Dan aku tahu bahwa aku dalam masalah. Ia menghampiriku, aku masih duduk di motorku.
“Darimana saja kamu?”, bentaknya.
“Ada kegiatan di sekolah. Kami mempersiapkan untuk acara prom night”.
“Mana ada kegiatan yang baru selesai jam segini! Kamu jangan bohong!”, katanya dengan suara keras.
“Aku nggak bohong! Kalau nggak percaya tanya aja sama temenku”.
Dia tidak berbicara apa-apa lagi, ia langsung mendorongku. Aku jatuh, badanku tertimpa motor yang kunaiki.
“Angkat itu!”, perintahnya.
Dengan tubuh yang gemetaran, aku berusaha mengangkat motor itu. Ketika motor kuangkat, kakiku ditendang oleh dia lagi. Motorku terjatuh di tanah dan menimbulkan suara keras, tapi aku tak terjatuh.
“Dasar dungu!”. Ia memukul kepalaku. Aku hanya bisa terdiam sampai ibuku keluar dari rumah.
“Ada apa ini?”, tanya ibuku kaget.
“Lihat anak ini! Masa baru pulang jam segini?”, kata kakakku.
“Sudahlah, siapa tahu dia ada urusan di sekolah”, kata ibuku.
“Alah! Mana ada!”. “Besok kamu nggak usah pake motor! Jalan kaki ke sekolah!”, bentaknya.
Aku melihati tanah yang ditumbuhi rumput hijau yang mengkilat. Air mataku ingin jatuh, tapi aku harus menguasai emosiku.
“Dengar nggak!!??”.
“Iya”, kataku dengan suara tanpa nada.
“Malam ini, kamu tidur aja di sini”, kata kakakku. Ia mengangkat motorku dan memasukkannya ke garasi. Sedangkan ibuku hanya menatapiku dengan tatapan kasihan lalu masuk ke dalam rumah.
Terpaksa malam itu aku tidur di teras rumah menggunakan seragam sekolah yang penuh dengan keringat. Untunglah ada keran di halaman rumahku, aku mencuci mukaku di situ. Aku duduk di pojokkan teras sambil memeluk badanku dan menangis terisak-isak.

Pluk! Aku terbangun dari tidurku. Ternyata aku menangis beneran. Kuhapus air mataku yang membasahi pipiku. Kulihat di jam dinding masih jam 00.00. Aku terdiam dan memandangi langit-langit rumah yang gelap karna lampu dimatikan. Lalu.. aku membiarkan rasa kantuk masuk ke dalam tubuhku hingga aku tertidur lelap sampai pagi.

""""
Cit...cit...cit..cit...
Burung gereja hinggap di atap rumah tetangga sebelah. Bunyi siulannya sangat keras sehingga membangunkan Min Jee.
Ketika Min Jee bangun ia sudah melihat satu buah nampan yang diatasnya ada roti bakar dan susu vanilla hangat. Ia memakan dan meminumnya. Kemudian, dia berdiri dan mengambil Hpnya yang ada di dalam tas sekolahnya. Ada lima panggilan tak terjawab dan satu pesan. Min Jee langsung menekan tombol exit dan menghapusnya. Dia tahu bahwa itu pasti dari kakaknya. Min Jee membuka pintu dan langsung melihat Pak Robert yang sedang minum kopi di ruang makan.
“Min Jee, kau sudah bangun? Sini, saya sudah siapkan makan pagi”.
Min Jee hanya menggangguk dan menghampiri Pak Robert. Ada dua mangkuk bubur. Bubur itu adalah bubur juk. Bubur khas korea. Min Jee menggeser kursi dan langsung menelan satu per satu gumpalan bubur tanpa disuruh makan oleh Pak Robert.

“Min Jee, kau tahu kan masalahmu itu bukan masalah biasa?”
Min Jee terus menyuap bubur kedalam mulutnya sambil berpura-pura seolah-olah “aku baik-baik saja. Jangan kasihani aku!”. Pak Robert tertegun melihat tidak ada reaksi dari Min Jee. Matanya memancarkan bahwa “sudah, aku tidak mau membicarakan ini”.
“Maaf, jika saya sudah lancang. Tapi, saya ada ide untukmu. Mungkin ide ini cukup gila karna kita baru kenal. Saya tidak memaksamu. Kamulah yang akan menentukannya”.
Min Jee menghentikan suapannya, “Apa ide bapak?”. Sepertinya Min Jee tertarik dengan pembicaraan yang satu ini.
“Bagaimana jika kamu ikut saya kembali ke Indonesia?”.
Min Jee tersedak ketika mendengarkan nama INDONESIA. Bagaimana mungkin aku pindah ke negara berkembang macam itu? Negara yang kacau dan sering terjadi demo. Belum lagi tentang para teroris-teroris itu. Tidak Mungkin!
“Kenapa? Apa itu ide buruk?”.
“Indonesia? Apa gak ada tempat lain?”.
“Maaf, saya tahu kamu pasti berat karna berpindah dari negara maju ke negara berkembang. Tapi, di Indonesia semua orang begitu ramah dan baik. Lagipula saya tinggal di sana”.
Min Jee terdiam. Ia tahu bahwa sekarang bukanlah saat yang tepat untuk memikirkan ke mana ia pindah. Yang terpenting sekarang adalah bebas dari kakaknya dan merasakan keindahan dunia. Mungkin di Indonesia adalah tempat yang tepat karna ibu dan kakaknya tidak akan berpikiran sampai ke situ.
“Tapi..bagaimana dengan anak bapak? Apakah ia bisa menerima saya?”.
“Soal itu, bapak belum bicara kepada Daniel. Walaupun Daniel tidak setuju, setidaknya kau bisa kabur dari sini. Kau bisa tinggal di kost. Apa kau setuju?”.
Min Jee menghentikan kunyahannya. Jika aku setuju, apakah kehidupanku akan berubah? Kalau aku nggak setuju, aku nggak akan terlepas dari para monster itu. Mulutnya terbuka dengan sendirinya,“Ya, saya setuju”.
 Pak Robert merasa puas dengan jawaban Min Jee.“Bagus, kita akan berangkat lusa nanti”, kata Pak Robert. Ia bangkit dari duduknya, “Saya harus pergi kerja sekarang. Lebih baik untuk sementara kamu tidak keluar rumah dulu. Bisa runyam nanti”. Min Jee tak menjawab. Ia melanjutkan aktivitasnya lagi, yaitu menyuap bubur masuk ke mulutnya. Pak Robert pun mulai terbiasa dengan sikap Min Jee. Tanpa menunggu jawaban dari Min Jee, ia langsung keluar rumah.
Ini Gila! Kata-kata itulah yang terus berputar-putar di benaknya. Selama ini aku selalu mengkhayal untuk kabur, tapi tak kusangka semuanya akan jadi kenyataan. Aku tahu aku tidak bawa apa-apa. Untung saja aku bawa buku diaryku, flasdisk, HP dan dompetku. Pak Robert pasti akan mengurus kebutuhanku di sana dan aku harus berkeja paruh waktu untuk mengganti uangnya. Satu suap bubur terakhir sudah melintasi tenggorokannya. Aku akan bebas. Mungkin ini adalah waktu yang tepat. Perasaan Min Jee deg-degan. Ia tidak sabar untuk membayangkan kebebasannya. Tidak ada rasa takut lagi, tidak ada bekas pukulan, tidak ada rasa khawatir, tidak akan ada yang tertekan, tidak akan ada tangisan dan penyesalan. Mudah-mudahan saja semua berjalan dengan lancar, itu doa Min Jee.

""""

Malam itu adalah malam terakhir Min Jee berada di Korea Selatan. Pak Robert pergi kerja dari jam delapan pagi hingga jam sepuluh malam. Jam istirahat makan siang dari jam satu siang hingga jam tiga siang. Dan di saat itulah Pak Robert selalu mengunjungi Min Jee di rumahnya untuk melihat keadaannya. Perut Min Jee sedikit bergolak. Nampaknya nafsu makannya mulai meningkat. Ia mengambil mantel Pak Robert yang digantung di dinding. Memutar kunci dan membuka pintu. Embusan angin malam menyapanya sampai ke tulang-tulangnya. Ia tahu bahwa ia sudah dilarang untuk keluar rumah. Tapi, bagaimana mungkin Min Jee membiarkan perutnya kurus kering tinggal tulang. Min Jee memakai topi musim dingin, rambut poninya menutupi sebagian wajahnya, ia memakai  sarung tangan polos berwarna coklat.
Sampailah ia pada tempat tujuannya: nasi goreng cina di pinggir jalan. Ia mulai memesan satu porsi nasi goreng cina kepada laki-laki yang umurnya sekitar dua puluh lima lebih. Min Jee duduk di bangku berwarna merah yang terbuat dari plastik. Matanya begitu detail dan tajam melihat sekelilingnya. Berhati-hati agar tidak ada yang mengenalinya. Karna kemungkinan ibu dan kakaknya sudah menanyakan keberadaannya pada teman-teman sekolah. Ia sedikit bersyukur ditakdirkan menjadi murid cupu yang berarti tidak banyak siswa yang mengenalinya. Jalanan begitu rame karna malam ini adalah malam Minggu. Rasanya aneh sekali, ia merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Min Jee tersenyum kepada dirinya sendiri. Jadi begini rasanya menjadi orang normal.
Min Jee melihati sekelilingnya. Hingga pada akhirnya ia mendapati sebuah motor sport berwarna merah yang ada di sebrang jalan. Motor itu terparkir di toko swalayan kecil, tapi begitu terang. Badannya mulai gemetaran, ia ingin menangis. Itu motor kakaknya! Pintu masuk swalayan itu terbuka dan sosok yang paling ia takuti pun muncul. Tanpa sadar Min Jee sudah menangis. Ia takut jika kakaknya melihat dirinya. Mata tajam kakaknya sempat melirik ke arah tukang jual nasi goreng itu, tapi bukan melirik ke arahnya. Min Jee langsung berlari sekencang-kencangnya.
“Hei... nasi gorengmu!”, teriak si penjual nasi goreng.
Min Jee tak menoleh. Ia terus saja berlari, ia harus kabur. Napasnya yang terengah-engah serta perutnya yang mulai kram tidak dihiraukan. Ia memutar kunci dengan tangan gemetaran lalu masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya lagi. Ia terduduk lemas memungungi pintu masuk. Dengan kedua tangannya, ia memeluk tubuhnya sendiri. Di rumah itu hanya terdengar suara desahan dan tangisan Min Jee.
Tenang... Aku harus tenang. Si iblis itu tidak melihatku. Sebentar lagi aku akan bebas. Kau tidak akan bisa menyiksaku lagi. Dan kau, mom, kau tidak akan melihatku lagi. Aku tidak akan menangis. Aku akan terus tersenyum. Selalu tersenyum. Isakan tangis Min Jee semakin menjadi-jadi walaupun menimbulkan suara kecil. Ia sudah cukup terlatih untuk menangis dengan suara pelan.
Di pikirannya terlintas begitu banyak kenangan manis ketika keluarganya masih hidup bahagia. Kakaknya baik, ibunya menyayangi anak-anaknya dan ayahnya menyayangi keluarganya. Andaikan saja waktu itu bisa kembali lagi. Min Jee ingin berada di masa itu dan menghentikan waktu agar keluarganya bahagia.
Dulu, ia masih ingat kakak dari ayahnya (atau yang bisa dipanggil tante oleh Min Jee) membuat kue dari jagung dan tepung berbentuk bundar ketika ia ulang tahun. Ayah Min Jee masih berkerja sebagai karyawan honor di kantor. Rumahnya pun masih sangat jelek dan tidak begitu banyak perabotan. Semua keluarga berkumpul, bernyanyi, tertawa bersama, Min Jee meniup lilin dan semuanya akan bertepuk tangan. Air matanya meluncur lagi. Sekarang, tidak akan ada perayaan macam itu, tidak akan ada acara kumpul keluarga. Semuanya saling membenci. Sejak konflik antara ayah dan ibunya, keluarga dari pihak mereka berdua jadi kurang akur. Semuanya saling menjelekkan satu sama lain. Selama ini Min Jee selalu ketakutan dan memikirkan masalahnya sendiri. Sebenarnya, memang tidak baik untuk melakukan segala sesuatu sendirian. Tapi, di saat di sisimu tidak ada orang yang akan membantumu maka kamu sendiri yang harus menyelesaikan masalahmu.
Terdengar suara mobil dimasukkan ke bagasi. Min Jee masih menangis, ia tahu bahwa tidak akan ada yang memarahinya saat ia menangis. Tidak seperti dulu, jika ia menangis maka ibunya akan memarahinya. Pak Robert mengetuk pintu. Min Jee bangkit dan membukakan pintu. Ia tidak melihat ke mata Pak Robert saat membuka pintu dan langsung duduk di sofa tamu. Pak Robert tahu bahwa Min Jee baru menangis, tapi ia tidak akan berbicara apa-apa.
Malam itu Pak Robert membereskan semua barang-barang termasuk barang Min Jee. Anak itu mengalami trauma dan ketakutan yang luar biasa bahkan melebihi trauma Daniel, pikir Pak Robert sambil menyimpuni pakaiannya ke dalam koper. Entah kenapa, ketika melihat Min Jee, Pak Robert jadi teringat anaknya sendiri, Daniel.
Besok mereka akan berangkat jam enam pagi. Pak Robert menyuruh Min Jee untuk tidur walaupun sebenarnya Min Jee menolak dan ingin membantunya membereskan barang-barang, tapi perintah Pak Robert seperti perintah ayahnya.
JJJJJ
Paginya, Min Jee dan Pak Robert menuju bandara naik taksi. Selama di perjalanan tidak ada yang bicara sepatah kata pun. Min Jee terus-terusan memandang ke luar jendela. Dalam hatinya ia terus bertanya-bertanya. Apakah aku sudah melakukan hal yang tepat? Apakah aku berani melakukan hal yang begitu mengerikan seperti ini? Aku berani, jawab hatinya kepada diri sendiri. Aku harus berani. Apapun yang terjadi aku akan menanggungnya. Ini hidupku dan aku sudah cukup umur untuk melakukan keputusanku sendiri. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun merusak kehidupanku yang seharusnya menjadi kehidupanku yang bahagia. Tidak akan pernah.
Taksi berhenti tepat di pintu masuk bandara. Pak Robert dan Min Jee turun, mengangkat barang-barangnya dan berjalan masuk ke bandara. Beberapa hari yang lalu Pak Robert sudah membelikan beberapa baju untuk Min Jee. Walaupun merasa agak sungkan untuk menerimanya, tapi ia harus menerimanya (karna Min Jee tidak punya baju dan tidak mau menghabiskan uang di dompetnya untuk membeli baju). Min Jee tak henti-hentinya menghentakkan kakinya ke lantai bandara yang mengkilat disorot oleh cahaya lampu. Lima belas menit lagi aku akan meninggalkan negara, sekolah dan keluargaku. Aku akan menempuh lembaran hidup yang baru. Terdengar suara dari mikrofon yang menyuruh para penumpang untuk segera check in. Min Jee dan Pak Robert pun langsung melakukan check in.

Di pesawat, Min Jee memilih untuk duduk di dekat jendela dan Pak Robert duduk di sebelahnya. Ia menatap keluar, ia bisa melihat awan-awan dan rumah-rumah yang terlihat sangat kecil. Tiba-tiba saja ia mengingat tentang  ayahnya. Waktu kecil ayahnya selalu saja membuat peraturan yang begitu banyak dan sanksi yang tegas (jika kita melanggar maka kita akan dipukul pakai ikat pinggang). Min Jee sempat berpikir bahwa ayahnya itu jahat. Tapi...ternyata salah. Tidak semua orang yang kita anggap  jahat itu jahat dan tidak semua orang yang kita anggap baik itu baik. Ayahnya berbuat seperti itu agar keluarga kami bisa bertahan hidup. Ternyata benar, ayah memang kepala keluarga. Karna jika tidak ada dia rasanya begitu berbeda. Berjam-jam Min Jee duduk di pesawat. Rasanya pantatnya sudah tidak ada lagi. Ia memutuskan untuk tidur daripada merasakan perih pantatnya.
JJJJJ
Napas lega Min Jee akhirnya bisa dihembuskan. Ia berjalan sambil memegangi koper dan menahan perih pantatnya. Di depan pintu masuk bandara, ada seorang cowok bule. Mukanya mirip sekali dengan Pak Robert yang membedakan hanya usianya lebih muda. Butuh beberapa menit saat Min Jee dan anak itu saling bertatap mata dan akhirnya ia menyadari bahwa itu adalah anak Pak Robert! Ia sedikit bingung dengan kehadiran Min Jee di sebelah ayahnya. Kalau dilihat-lihat anaknya lumayan cakep. Giginya tersusun sangat sempurna dan dia mewarisi mata biru dari ayahnya. Kulitnya putih pucat dengan badan yang kurus.
“Hai, Daniel”, sapa Pak Robert pada anaknya. Tapi, Daniel tidak menjawab ia terus melihati Min Jee. Tatapan matanya seolah-olah berkata “siapa dia?”, tapi mulutnya tak bisa berbicara.
“Dia ini Min Jee. Untuk sementara dia akan tinggal di rumah kita”.
Setelah Pak Robert berbicara seperti itu, Daniel langsung membuang muka dan masuk ke dalam taksi yang rupanya adalah taksi mereka. Min Jee tahu arti dari tatapan matanya. Bahwa ia tidak suka jika ada orang asing masuk ke dalam rumahnya. Tidak suka bergaul dengan orang lain karna semuanya jahat. Nampaknya Min Jee akan mempunyai teman satu seperjuangan. Di taksi, Min Jee terus-terusan menatap pada Daniel, berharap dia akan menatap dan memberikan senyum ramah. Tapi, tidak. Ia terus menatap dingin ke luar jendela. Benar-benar seperti Min Jee!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar