Pengalaman

Okay, Well, aku akan menceritakanmu sedikit mengenai jilbab. Yah, walaupun sebenarnya aku juga masih pemula dalam memakai jilbab.

Awal mula ketika aku ingin mengenakan jilbab adalah saat aku kelas tiga SMP. Pada saat itu, ada acara semacam hari besar agama Islam dan seperti biasa, di sekolahku kedatangan ustad dan kami harus mendengarkan ceramah panjang. Saat itu, ada seorang guruku yang mengatakan bahwa seorang perempuan harus memakai jilbab. Awalnya, aku cuek dengan hal itu, tapi entah kenapa kata-kata itu terus melayang di dalam kepalaku ini.
Aku mulai mencari tahu tentang hukum-hukum mengenakan jilbab. Aku bertanya ke semua temanku yang berjilbab, aku bertanya ke semua temanku yang alim dan aku mendapatkan suatu kesimpulan: Seorang muslimah wajib mengenakan jilbab.

Awalnya, begitu banyak godaan yang menghampiriku saat aku ingin mengenakan jilbab walaupun aku sudah memutuskan untuk memakai jilbab pada saat aku masuk SMA nanti. Tapi hatiku masih gundah mmengenai hal ini. Aku terus memikirkannya hingga aku sulit idur dan bernapas. Aku berdoa kepada Allah agar memberiku petunjuk. Aku sangat kebingungan antara memilih kenikmatan dan kewajiban.
Aku bertanya-tanya dalam diriku apakah aku akan cantik pada saat mengenakan jilbab? Apakah aku akan terlihat jelek saat mengenakannya? Apakah aku tidak bisa memakai baju-baju trend yang bagus-bagus? Lalu, baju apa yang harus kukenakan pada saat prom night nanti?

Di dalam hatiku, aku merasa tidak sanggup dan mengabaikan tentang kewajiban itu, tapi seperti ada suara kecil yang berkata: Bagaimana saat aku di hari akhir nanti? Bagaimana jika malaikat bertanya mengapa aku tidak mengenakan jilbab sedangkan itu adalah perintah Allah? Jika aku menjawab aku belum siap, apakah jawabanku akan diterima? Kurasa tidak. Karna aku tidak tahu kapan aku mati dan aku tidak boleh mementingkan kehidupan duniawi, maka aku pun mulai mengenakan jilbab.

Aku tahu sebenarnya aku bukanlah seorang muslimah yang baik, aku tahu imanku masih setengah-setengah, tapi bagiku, Allah adalah alasanku mengapa aku melakukan hal ini. Aku meyakinkan diriku bahwa masa bodoh dengan penampilanku. Masa bodoh dengan fashionable. Aku hanya menanamkan satu kalimat yang pernah kubaca dari buku. dan kalimat itu berisi: Jika kau mencintai seseorang, maka kau harus berkorban untuk orang itu. Jika kau mencintai Allah, maka kau harus berkorban demi-Nya.

Kalimat itulah yang terus kupegang. Ketika awal-awal mengenakan jilbab. Aku harus melawan godaan setan yang sangat mengguncang hati dan kepercayaan diriku. Untunglah, aku bertemu dengan seorang teman yang sangat kuat Islamnya. Dialah yang membantu dan selalu membuatku sadar akan perintah-perintah Allah.
Ada seorang temanku yang berkata bahwa aku tidak cocok memakai jilbab. Bahkan kakakku mengatakan bahwa aku terlihat jelek mengenakan jilbab. Aku tahu bahwa aku sedang berada di dua ambang, yaitu ambang kebaikan dan ambang kejahatan. Pada mulanya, aku ingin memutuskan untuk memakai jilbab setengah-setengah. Tapi, aku merasa Allah sangat menyayangiku dan aku sangat bersyukur atas itu. Setiap kali, kepercayaan diriku turun saat mengenakan jilbab, Allah menuntunku dan memberi tahu apa arti dari mengenakan jilbab melalui temanku, buku, film dan masih banyak hal lain. Karna itu, aku percaya bahwa aku memang ditakdirkan untuk melakukan perubahan. Ketika kau ingin melakukan suatu perubahan, maka kau harus mengambil satu langkah berani dalam hidupmu dan hal itu tidaklah gampang. Memakai jilbab memang kelihatannya mudah. Tapi, tidakkah kalian tahu bahwa para setan selalu menggoda orang yang baru bertaubat karna itu kau harus mempercayai apa yang kau lakukan dan jangan gampang down karna setan akan menyerangmu terus hingga kau down dan akhirnya berbalik dari jalan yang lurus.

Aku mulai mengerti bahwa mengenakan jilbab adalah untuk menjaga kehormatan seorang wanita. Kata temanku, hal itu bagaikan sebuah lemper. Bandingkan saja anatara lemper yang dijual di pasar dengan lemper yang dijual di hotel, tentu harganya tidak akan sama. Pertanyaannya mengapa kedua lemper tersebut berbeda? Jawabannya gampang sekali. Lemper di pasar hanya terbungkus oleh daun pisang dan lemper itu bisa dipegang oleh siapa saja sehingga harganya menjadi murah. Berbeda dengan lemper hotel yang terbungkus daun pisang berserta plastik, lemper itu juga disusun rapi dan jika ada orang yang menyentuhnya, maka ia harus membeli lemper tersebut. Itulah perbedaan antara seorang wanita yang mengenakan jilbab dengan seorang wanita yang tidak mengenakan jilbab.

Jujur, terkadang aku sedih dengan para muslimah yang tidak mengenakan jilbab. Apakah mereka tidak pernah membaca bahwa setiap muslimah hukumnya wajib menutupi aurat mereka. Atau mereka menutup telinga dan mata mereka dari kenyataan yang ada? Apakah mereka kira bahwa kecantikan dan penampilan adalah hal yang paling utama? Itu kesalahan besar, sebab sepertinya mereka belum tahu darimana mereka berasal dan dimana mereka akan ditempatkan. Sungguh kasihan para muslimah yang tidak mengenakan jilbab karna mereka tidak selamat di akhirat. Kata seorang temanku, muslimah yang tidak memakai jilbab tidak bisa mencium bau surga.

Saat kalian memakai jilbab ada hal-hal yang harus kalian perhatikan:
1. Gunakan jilbab yang panjang jilbabnya minimal sampai tiga kancing bajumu
2. Gunakanlah jilbab yang tebal, jangan gunakan jilbab yang tipis

Itu saja yang baru aku ketahui. Mudahan saja para muslimah yang belum mengenakan jilbab dapat memulai mengenakan jilbab.