BAB 2
Min Jee terbangun dari tidurnya. Untuk pertama kalinya senyum mengambang di wajahnya saat bangun tidur. Rasanya semua terjadi begitu cepat. Kemarin, dia adalah seorang gadis yang selalu ketakutan dan stres memikirkan bagaimana nasibnya. Sekarang, dia adalah seorang gadis yang bebas menentukan langkah dan kegiatannya hari ini. Semangatnya yang menggebu-gebu membuat dia membereskan kamar tidur sambil bernyanyi riang. Ia bahkan tidak pernah bernyanyi di dalam rumah!
Min Jee menuruni anak tangga dan menuju ruang makan. Ia melihat Pak Robert sedang membuat steak sambil memakai celemek putih bergambarkan bunga Lily putih. Daniel duduk di ruang keluarga. Ia sedang menonton TV sambil mencoret-coret selembar kertas putih.
“Good morning, Min Jee!”, sapa Pak Robert.
“Good morning, Mr. Robert!”, balasnya. Min Jee langsung duduk di kursi meja makan dan memotong beberapa bagian steak di atas piring putih.
Daniel melirik ke arah Min Jee. Semalam ayahnya sudah memberitahu kenapa Min Jee berada di rumahnya. Ia bisa maklumi akan hal itu. Tapi, sifatnya tak bisa diubah. Ia tetap membenci kedatangan orang asing di rumahnya.
Pak Robert menggantung celemek di gantungan kayu yang ditempel di dinding dapur.
“Nah, saya berangkat dulu Min Jee”, kata Pak Robert.
“Apakah bapak tidak sarapan dulu?”.
“I’m fine without breakfast”, kata Pak Robert membetulkan bajunya. “Daniel! Kau bisa antar Min Jee berkeliling kan? Supaya dia cepat tahu nama tempat-tempat dan jalan. Sekalian, kau tunjukkan SMA nya”. Daniel tak menjawab dan terus-terusan menulis di lembaran kertas putih itu. Tanpa menunggu jawaban Daniel, Pak Robert langsung ke garasi. Sepertinya Pak Robert sudah tahu jawaban yang akan Daniel lontarkan.
Min Jee menyuap potongan steak ke dalam mulutnya. Anak yang aneh! Sifatnya tidak jauh beda dengan sifatku. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika ibuku membawa masuk orang asing ke rumah.
“Daniel, apakah kau akan mengajakku berkeliling?”, tanya Min Jee. Tak ada jawaban, hanya kepala Daniel yang menggangguk terlihat dari belakang.
Min Jee memakai baju kaos bergambar chery merah raksasa dan celana jeans berwarna hitam. Karna ini di Indonesia mungkin pakaiannya agak tertutup dan sederhana. Selama perjalanan di taksi kemarin, Min Jee memperhatikan bagaimana cara orang di sini berpakaian. Hanya beberapa orang yang memakai pakaian terbuka dan trendi, sisanya memakai baju tertutup dan sederhana. Di sini juga banyak yang memakai serudung. Beda sekali dengan di negaraku.
“Kau siap?”, tanya Daniel, mukanya tidak menatap Min Jee ketika berbicara. Tapi setidaknya ia berbicara pada Min Jee.
“Ya”.
Mereka memakai sebuah mobil tua berwarna merah. Sepanjang perjalanan tak ada yang bicara. Jalanan di sini sempit, mungkin karna ini kota kecil. Tak ada sepeda di jalan raya, banyak orang yang menjual sesuatu menggunakan gerobak terutama di pinggir jalan. Akhirnya mobil mereka berhenti di suatu tempat. Seperti taman, tapi bukan taman. Ada dua lapangan di situ, satu lapangan sepak bola yang ukurannya lebih besar dari lapangan bola basket. Ada halte bus di sana, tapi Min Jee sama sekali tidak melihat jalur khusus bus. Banyak pohon besar rindang dan tempat duduk yang cukup dimuati untuk dua orang dewasa. Di samping lapangan basket ada jalan kecil. Di sepanjang jalan itu banyak orang yang menjual menggunakan gerobak. Daniel duduk di salah satu tempat duduk, Min Jee mengikutinya. Di depan terlihat dua sekolahan yang saling bersebelahan. Min Jee belum mahir berbicara Indonesia. Ia hanya berbicara bahasa inggris dengan Daniel dan Pak Robert.
“Tempat ini namanya lapangan pemuda”, kata Daniel.
“Kau lihat ada sebuah gedung di sebelah kiri itu?”.
“Ya”, kata Min Jee.
“Itulah sekolahan kita nanti”.
Ada jeda beberapa saat. Min Jee melihat sekitarnya, rasanya tempat ini begitu asing. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dijual di gerobak itu. Apakah snack? Tapi, ia tidak melihat snack yang didagangkan.
“Hei, aku benar-benar bingung. Sebenarnya orang-orang itu menjual apa?”, tanya Min Jee sambil menunjuk sederet pedagang kaki lima. Daniel hanya menatap lurus tanpa menjawab pertanyaan Min Jee seakan-akan ia berharap Min Jee akan tahu sendiri.
“Daniel?”. Ia tak menjawab lagi.
“Hei, aku berbicara kepadamu! Kenapa kau hanya diam saja? Kalau kau tak memberitahuku, aku tidak akan tahu karna aku baru di sini. Aku tahu kau tidak suka padaku. Tapi, kau punya mulut dan gunakanlah itu untuk berbicara!”, bentak Min Jee. Ia baru sadar ketika ia selesai berbicara bahwa omongannya agak kasar. Gawat! Bicara apa aku tadi?
Daniel menatap Min Jee. Dan Min Jee hanya menelan ludah. Min Jee mengira Daniel akan memarahinya atau meninggalkannya di sini, tapi ia malah menundukkan kepalanya lemas.
“Maafkan aku”, ucap Daniel sambil menunduk ke bawah. “Aku memang orang yang susah ngobrol dan bergaul sama orang lain. Maafkan aku”
“Ah, tidak apa-apa! Perkataanku tadi nggak usah dipikirin. Aku cuma bercanda!”, kata Min Jee berharap agar Daniel tidak ilfeel kepadanya.
“Mana mungkin kau bercanda. Kau ngomong dengan muka serius dan nada yang serius pula”.
Dia anak yang pintar. Min Jee takkan bisa membohonginya. Daniel masih menunduk ke bawah sedangkan Min Jee melihati rambut coklatnya yang terkena sinar matahari.
“Bukan salahmu”, kata Min Jee.
Daniel mengangkat kepalanya, “Apanya?”.
“Kita sama-sama anak korban perceraian orang tua. Aku tahu perasaanmu”.
“Kau benar”, kata Daniel. Ia kembali menundukkan kepalanya.
“Tapi, kau tidak harus mengubah dirimu menjadi seperti ini kan? Pak Robert memberitahuku semuanya. Kau lebih beruntung dariku. Kau mempunyai ayah yang menyayangimu, sedangkan aku. Aku tidak punya siapa-siapa”.
Daniel menghembuskan napas. Lagi-lagi ayah, dia selalu membocorkan rahasia. “Min Jee, aku sudah tahu ceritamu. Ayahku memberitahuku dan aku turut bersedih atas semuanya. Aku ini memang anak yang lemah. Aku tak bisa sekuat kamu. Bahkan apa yang telah terjadi denganmu, kau masih bisa tersenyum dan tertawa. Aku...aku tidak bisa mengatasinya. Beberapa hari yang lalu aku melihat ayahku sedang jalan sama cewek. Mereka kelihatan sangat akrab. Aku benar-benar takut jika ayahku menikah lagi. Aku hanya mempunyai satu ibu dan satu ayah. Aku tidak akan mengakui siapapun sebagai ayah dan ibuku walaupun mereka ibu dan ayah tiriku. Kau bisa pahami itu?”.
“Iya, aku bisa. Aku pun juga mengkhawatirkan tentang itu, Biar bagaimanapun kita memang hanya mempunyai satu ayah dan ibukan?”, kata Min Jee sambil tersenyum.
“Terima kasih, Min Jee”, kata Daniel. Perkataan Min Jee itu membuat Daniel merasa lebih baik. “Aku merasa setelah perceraian ayah dan ibuku, aku sudah tidak berguna lagi. Walaupun aku berusaha untuk menjadi orang normal lagi, tapi aku tak bisa. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku sedih”.
“Bagaimana kau bisa melakukannya, Min Jee?”, tanya Daniel menatap mata Min Jee.
“Aku hanya melakukannya saja. Aku tidak mau orang lain mengganggapku sebagai korban dari perceraian orang tua. Aku tidak mau ditunjuk-tunjuk orang di luar sana dan mereka berkata, hei lihat anak itu. Anak itu suram karna perceraian orang tuanya”.
“Sepertinya aku sudah melakukan hal yang tak ingin kau lakukan”, kata Daniel tersenyum.
“Ya, kau memang bodoh”, canda Min Jee.
Hari itu bagaikan hari permulaan pendekatan sebagai teman antara Daniel dan Min Jee. Perasaan mereka sangat hangat seperti sedang dimandikan air hangat. Mungkin karna mereka mengganggap mereka sama-sama korban dari perceraian orang tua mereka. Itulah sebabnya mereka bisa berbicara lancar.
Malam harinya, Min Jee membuka buku diarynya. Ia mulai menulis semua ceritanya hari ini.
Dear Diary,
Hari ini aku dan Daniel mulai akrab. Ia mulai berbicara denganku walaupun sedikit kaku. Tapi, itu lebih baik dari hari kemarin. Ia bahkan tidak berbicara apapun kepadaku! Rasanya aneh sekali. Dia adalah anak yang baik dan kami memiliki sifat yang sama: sama-sama tidak bisa menerima kehadiran orang asing secara langsung.
Pak Robert adalah seorang ayah yang baik. Dia selalu tahu apa yang harus ia lakukan dan kapan harus menceritakan rahasia, sama seperti ayahku. Mungkin aku dan Daniel menjadi dekat karna kami merasa seperti teman seperjuangan. Daniel kasihan denganku. Tapi, aku tak mau itu. Aku tidak mau mengganggap diriku sebagai korban penderitaan. Aku akan berjuang untuk keluar dan tidak akan mengasihani diriku sendiri dan mengasihani orang lain. Aku senang sekali mendapatkan pelajaran hidup hari ini. Itu menambah kedewasaanku. Beberapa bulan lagi aku akan menginjak SMA, mungkin sekitar satu bulanan. Terima kasih Allah, Engkau sudah membebaskanku..
Berhari-hari Min Jee lewati di rumah Pak Robert dan terkadang ada hari khusus untuk mereka bertiga pergi ke taman dan makan malam di restoran. Daniel dan Min Jee mulai akrab. Bahkan PS yang biasanya Daniel main sendirian dan ia tidak pernah mengijinkan Pak Robert untuk bergabung bermain dengannya, kini ia mainkan berdua dengan Min Jee. Daniel selalu menang jika mereka bermain balap motor dan Min Jee selalu menang jika mereka bermain BloodyBoard. Pak Robert sedikit lega dengan perkembangan Daniel. Sementara ia harus berpikir untuk memberitahukan kabar gembira atau buruk bagi Daniel.
Tinggal dua hari lagi pengumuman kelulusan diumumkan. Pak Robert menyuruh kerabatnya untuk mengambil ijazah Min Jee di Korea Selatan. Ia telah memberikan semua nasihat dan petunjuk.
Satu hari sebelum pengumuman kelulusan, Daniel mengajak Min Jee ke sungai mahakam untuk menguji kamera yang baru dibelikan ayahnya. Min Jee berpose dengan berbagai gaya. Angin yang berhembus membuat rambut Min Jee berkibar dan itu bagus sekali jika difoto. Pemandangan sungai dengan ombak yang berkejar-kejaran benar-benar menggunggah mata. Min Jee rasa ia sangat suka tempat ini. Kalau malam akan ada cahaya lampu dari ujung sungai karna di sana terdapat rumah-rumah kayu.
“Gayamu yang ini bagus sekali”, kata Daniel. Ia menunjuk sebuah foto Min Jee yang tersenyum sambil memegangi rambutnya yang berkibar.
“Kalau dilihat-lihat gayamu mirip fotomodel”, ujar Daniel.
“Ya memang... aku gitu loh!”, kata Min Jee mengibaskan rambutnya ke belakang.
“Sepertinya aku salah memuji deh..”.
Min Jee sudah mulai terbiasa berbicara bahasa Indonesia walaupun ada beberapa kata yang belum ia mengerti. Mereka duduk di atas palang pembatas sungai mahakam yang terbuat dari semen.
“Ayahku berkerja sebagai produser di dunia perfilman. Jadi, wajar saja jika aku berbakat di bidang-bidang macam itu”.
“Ayahku berbakat di bidang masak. Aku tidak terlalu pintar masak, mungkin aku menurunkan bakat ibuku”.
“Sudah jam segini, kau mau makan siang apa?”, tanya Daniel.
“Apa saja asal jangan seafood”.
“Baiklah, aku akan membawamu ke tempat makan favoritku. Kita akan makan batagor”.
“Batagor? Apa itu?”.
“Itu makanan khas Bandung. Isinya tahu, pentol yang dicampur tahu pokoknya banyak deh. Terus, diatasnya dikasih bumbu kacang”.
“Bumbu kacang? Apalagi itu?”.
“Bumbu kacang itu semacam bumbu pisang goreng yang kemarin, cuma ada sedikit tambahan”. Min Jee tak bertanya lagi. Selama ini ia sudah pernah makan bakso, mie pangsit, mie ayam, nasi goreng, sate, ayam bakar khas jateng, nasi padang, es campur dan es dawet.
Letak penjual batagor itu dekat mall Lembuswana. Min Jee pernah ke sana beberapa hari yang lalu. Pesanan mereka datang, Min Jee melihat piring yang berukuran sedang dipenuhi makanan yang diatasinya dikasih bumbu kacang. Makanan ini porsinya tidak terlalu banyak seperti porsi nasi padang dan nasi goreng. Seperti makanan selingan.
“Gimana enak nggak?”, tanya Daniel. Ia mengunyah-gunyah batagor di mulut.
Min Jee mengunyah makanan itu sambil menikmati setiap detail rasanya. Rasanya enak! Ada kenyal-kenyalnya. Kayaknya aku akan suka pada makanan ini.
“Enak!”, kata Min Jee sambil tersenyum. Daniel mengangkat alisnya yang seakan-akan dari wajahnya berkata, “pilihanku memang tepat”.
Sebelum mereka pulang, Min Jee meminta Daniel membelikannya satu porsi lagi untuk dibawa pulang ke rumah. Ternyata Indonesia tidak seburuk yang ia sangka. Banyak makanan yang enak dan semua orang ramah. Misalkan saja, saat Min Jee tak sengaja saling bertatap muka dengan seorang ibu-ibu, ibu itu langsung tersenyum ramah kepadanya.
Di kamar Min Jee banyak tumpukan koran. Ia sudah membaca semua artikel dan akan memutuskan untuk ngekost. Tidak mungkin rasanya jika Min Jee terus-terusan berada di rumah Pak Robert. Syukurlah uang di dompetnya cukup untuk sewa tiga bulan, sisanya ia akan bayar dengan gaji kerja paruh waktunya.
“Makan malam sudah siap!”, teriak Pak Robert.
Min Jee melipat kembali koran itu dan berlari menuruni anak tangga. Ia sudah menaruh batagor di piring makannya dan semua sudah berkumpul di meja. Sebelum makan, mereka berdoa masing-masing. Pak Robert dan Daniel beragama Kristen Protestan dan Min Jee beragama Islam. Akan tetapi, Pak Robert tidak pernah menyediakan makanan yang dianggap Islam haram.
“Pak Robert..”, kata Min Jee.
“Iya, ada apa?”.
“Saya..saya benar-benar merasa bahagia tinggal di sini. Ini semua seperti keluarga idaman saya”.
Pak Robert dan Daniel menghentikan kunyahan mereka. Seakan-akan mereka tahu maksud dari pembicaraan Min Jee.
“Saya sudah memilah-milah kost putri”.
Daniel merasakan perutnya seperti dialiri air es. Ia sudah senang karna bisa akrab dengan Min Jee dan mempunyai teman. Ia tidak mau sendirian lagi. Ia bahkan sudah mengganggap Min Jee seperti saudaranya.
“Min Jee..kau bisa tinggal di sini bersama kami. Ya kan, Daniel?”. Daniel menggangguk.
“Tidak, pak. Saya benar-benar berhutang budi kepada anda. Tapi, sesuai dengan kata bapak, saya hanya akan tinggal sementara di sini dan seterusnya saya akan tinggal di kost-an putri. Lagipula saya kan akan berkerja di kafe bapak. Jadi bapak tidak perlu khawatir”.
“Hmmm... baiklah. Ini salah saya yang mengatakan hal seperti itu. Kapan kamu mau pindah?”.
“Kalau bisa besok, pak”.
“Daniel akan mengantarmu”.
Min Jee tahu bahwa Daniel kecewa terhadap keputusannya. Ia terus memasang muka tidak rela.
Mobil tua Daniel terparkir di depan kost-kostan yang akan ditempati Min Jee. Bangunannya terbuat dari kayu dengan cat hijau yang pudar. Ibu kost sudah siap siaga di depan pintu menyambut kedatangan Min Jee.
“Halo.. semoga kau bisa nyaman di sini”, katanya. Ibu itu memakai baju rumahan berwarna kuning terang yang menyilaukan mata Daniel.
“Mari saya tunjukkan kamar anda”.
Mereka mengikuti ibu itu dari belakang sampai ibu itu berhenti di sebuah ruangan dan membuka pintunya. “Ini kamarmu”.
Min Jee masuk menaruh barang di lantai berserta Daniel.
“Kalo ada apa-apa kamu tinggal bilang ke teman kamar sebelahmu, nanti dia akan menghubungi ibu. Ini kuncimu”, ucap ibu kost.
“Terima kasih, bu”.
Ibu itu pergi dengan suara kakinya yang sangat mengganggu. Daniel duduk di lantai.
“Kenapa kau pilih kost macam ini?”.
“Karna ini yang paling murah dan dekat dengan sekolahan kita”.
“Kostan ini sangat buruk”.
“Karna itu kostan ini murah”.
“Kau kan bisa tinggal bersama kami”.
“Aku merasa direpotkan”.
Min Jee memasukkan pakaiannya ke dalam lemari kecil yang sudah disediakan. “Daniel, kau bisa pulang sekarang. Ini kostan putri”.
“Baiklah, sepertinya aku akan merindukanmu”.
“Memang”.
Setelah itu, Min Jee mulai beradaptasi dengan lingkungannya tanpa bantuan Daniel dan Pak Robert. Terkadang Daniel mengajaknya jalan-jalan. Setiap hari Pak Robert dan Daniel selalu menelpon Min Jee. Daniel yang lebih sering melakukannya. Mungkin karna Pak Robert lebih sibuk dibandingkan Daniel. Ia sudah melakukan test masuk SMA 1 dan ia dinyatakan lulus. Kerabat Pak Robert berhasil membawa ijazahnya tanpa sepengetahuan ibu dan kakaknya.
Besok adalah hari pertama Min Jee masuk sekolah. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara berbaur di sana. Untunglah Daniel menelponnya dan memberitahu tentang apa saja yang harus ia lakukan. Tahun ini adalah tahun beruntung karna pada tahun ini MOS ditiadakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar